pertanyaan sehubungan dengan topik dilema etika dan bujukan moral
PertanyaanSehubungan Dengan Topik Dilema Etika dan Bujukan Moral. 1. Apa dasar yang membedakan antara dilema etika dengan Bujukan Moral? Karena saya terkadang masih ragu untuk membedakan dilema etika dan bujukan moral. 2. Bagaiman cara mengatasi/mengindari bujukan moral? Pertanyaan Sehubungan Dengan Topik 4 Paradigma Pengambilan Keputusan. 1.
PengertianDilema Etika dan Bujukan Moral - Hallo sahabat LOKER-LOWONGAN KERJA CPNS BUMN UMUM, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Pengertian Dilema Etika dan Bujukan Moral, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel BANK, Artikel BUMN, Artikel JOB TERBARU, Artikel LOWONGAN TERBARU, Artikel
Untukmewujudkan profil pelajar pancasila, akan ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.
KonsepPengambilan dan Pengujian Keputusan. Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun untuk memandu Anda dalam mengambil dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan. 1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
Pandangandan pendapat rekan sejawat di sekolah Terkait dengan kasus Bu Tati
Frau Mit 2 Kindern Sucht Mann. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. PENTINGNYA ETIKA DAN MORAL DALAM MEMINIMALISIR RISIKO DAN KONSEKUENSI HUKUM DALAM PRAKTIK KEPERAWATANLukman Herawan _ 2206102513 ABSTRAK Keperawatan adalah profesi yang memegang peran penting dalam memberikan perawatan kesehatan kepada individu yang membutuhkannya. Praktik keperawatan yang efektif dan berkualitas melibatkan tidak hanya aspek teknis, tetapi juga aspek etika dan moral yang yang ingin diangkat dalam esai ini adalah pentingnya etika dan moral dalam meminimalisir risiko dan konsekuensi hukum dalam praktik keperawatan. Esai ini bertujuan untuk menyoroti bagaimana prinsip etika dan moralitas individu dapat membantu menjaga keamanan pasien, menjaga profesionalisme, serta melindungi kepentingan hukum para perawat. Metode Dalam penulisan esai ini, pendekatan ekspositori digunakan untuk menguraikan informasi dengan jelas dan logis. Etika dan moral memainkan peran penting dalam meminimalisir risiko dan konsekuensi hukum dalam praktik keperawatan. Prinsip etika, moralitas individu, dan profesionalisme membantu menjaga keamanan pasien, menjaga integritas perawat, dan melindungi kepentingan Kunci Kode Etik; Konsekuensi Hukum; Moral; Keperawatan adalah profesi yang memegang peran penting dalam memberikan perawatan kesehatan kepada individu yang membutuhkannya. Praktik keperawatan yang efektif dan berkualitas melibatkan tidak hanya aspek teknis, tetapi juga aspek etika dan moral yang kuat. Etika dan moral memainkan peran penting dalam meminimalisir risiko dan konsekuensi hukum dalam praktik keperawatan. Dalam esai ini, akan dibahas pentingnya etika dan moral dalam memastikan keamanan pasien, menjaga profesionalisme, serta melindungi kepentingan hukum para perawat. Legal yaitu sesuatu yang dianggap sah oleh hukum dan perundang-undang Budiono, 2016 . Legislasi adalah hukum perundang-undangan yang diberlakukan oleh badan legislatif di suatu negara Berman et al., 2021. Aspek hukum keperawatan termasuk pedoman hukum yang diikuti perawat berasal dari undang-undang, kode, dan hukum umum Potter et al., 2015.Kode etik adalah seperangkat prinsip panduan yang diterima semua anggota profesi. Ini adalah pernyataan kolektif tentang harapan dan standar perilaku kelompok. Kode berfungsi sebagai pedoman untuk membantu kelompok profesional ketika muncul pertanyaan tentang praktik atau perilaku yang benar. Prinsip-prinsip dasar tanggung jawab, akuntabilitas, advokasi, dan kerahasiaan Potter et al., 2015. Prinsip moral meliputi Otonomi, Nonmaleficence, Kebaikan, Keadilan, Kesetiaan, dan Kebenaran. Memberikan dasar untuk aturan moral, yang merupakan resep khusus untuk tindakan Berman et al., 2021.Etika dalam praktik keperawatan mencakup prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral yang mengatur perilaku perawat dalam hubungan dengan pasien, rekan kerja, dan masyarakat umum. Prinsip-prinsip seperti otonomi, keadilan, tidak melakukan kerusakan, dan memperoleh persetujuan informasi dari pasien adalah beberapa contoh prinsip etika yang penting dalam keperawatan. Mematuhi prinsip otonomi berarti menghargai hak pasien untuk membuat keputusan tentang perawatan mereka sendiri dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko konflik antara perawat dan pasien serta melindungi pasien dari tindakan yang tidak diinginkan. 1 2 3 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Dilema etika benar vs benar adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral benar vs salah yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah. Dari pengalaman kita bekerja di manapun, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Paradigma Dilema Etika Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini 1. Individu lawan masyarakat individual vs community Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda. Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok. 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan justice vs mercy Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan atau sama rata. Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan kebaikan Misalnya ada peraturan di rumah Anda harus ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena seorang teman membutuhkan bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah orang tua Anda membuat pengecualian? 3. Kebenaran lawan kesetiaan truth vs loyalty Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia atau bertanggung jawab kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman saudara yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan. 4. Jangka pendek lawan jangka panjang short term vs long term Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll. Orang tua kadang harus membuat pilihan ini. Contohnya Mereka harus memilih antara seberapa banyak uang untuk digunakan sekarang dan seberapa banyak untuk ditabung nanti. Pernahkah Anda harus memilih antara bersenang-senang atau melatih instrumen musik atau berolahraga? Bila iya, Anda telah membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang. Prinsip Dilema Etika Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika Pendidikan, hal. 43. Dari kutipan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Silakan membaca 3 tiga pernyataan di bawah ini Melakukan, demi kebaikan orang banyak. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri Anda. Melakukan apa yang Anda harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Anda. Selama ini pada saat mengambil keputusan, landasan pemikiran kita memiliki kecenderungan pada prinsip nomor 1, 2, atau 3? Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. Kidder, 2009, hal 144. Ketiga prinsip tersebut adalah 1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir Ends-Based Thinking 2. Berpikir Berbasis Peraturan Rule-Based Thinking 3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli Care-Based Thinking 9 langkah Pengambilan Keputusan Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun secara berurutan untuk memandu Anda dalam mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan. Langkah 1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini. Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial. Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika lagi. Langkah 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil. Langkah 3 Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang. Langkah 4 Pengujian benar atau salah, meliputi a. Uji Legal Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral. b. Uji Regulasi/Standar Profesional Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda. c. Uji Intuisi Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar. d. Uji Halaman Depan Koran Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika. e. Uji Panutan/Idola Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda. Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan Rule-Based Thinking yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam. Uji halaman depan koran, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir Ends-Based Thinking yang mementingkan hasil akhir. Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli Care-Based Thinking, di mana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain. Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil risiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral. Langkah 5 Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini? 1. Individu lawan masyarakat individual vs community 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan justice vs mercy 3. Kebenaran lawan kesetiaan truth vs loyalty 4. Jangka pendek lawan jangka panjang short term vs long term Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting. Langkah 6 Melakukan Prinsip Resolusi Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai? o Berpikir Berbasis Hasil Akhir Ends-Based Thinking o Berpikir Berbasis Peraturan Rule-Based Thinking o Berpikir Berbasis Rasa Peduli Care-Based Thinking Langkah 7 Investigasi Opsi Trilema Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah Langkah 8 Buat Keputusan Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya. Langkah 9 Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya. Demikian penjelasan tentang dilema etika, paradigma, prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Semoga bermanfaat. Sumber LMS modul program pendidikan guru penggerak kemendikbud Angkatan 4 © Dilema Etika dan Bujukan Moral Source
Ilustrasi perbedaan dilema etika dan bujukan moral. Sumber dilema etika dan bujukan moral dalam pengambilan keputusan menarik untuk dipahami. Masalah dilema etika dan bujukan moral ditemui dalam pelatihan bidang pendidikan. Namun ini bisa bermanfaat untuk menghadapi berbagai masalah keputusan untuk diri sendiri saja sudah sulit, apalagi sebagai pemimpin yang berakibat pada banyak orang. Di dalam hati dan pikiran akan ada pertanyaan dan pertentangan yang harus dicerna dan Dilema Etika dan Bujukan MoralDikutip dari Bergerak Serentak, Yolly Rizky Afrianto 202276-77, dalam proses pengambilan keputusan, ada 2 hal yang akan terjadi, yaitu dilema etika dan bujukan moral. Perbedaan dilema etika dan bujukan moral adalahDilema etika benar vs benar adalah sebuah situasi dimana keduanya benar tapi bertentangan dalam mengambil moral benar vs salah adalah situasi ketika seseorang dihadapkan pada benar salah ketika mengambil moral lebih mudah diatasi karena dapat berpegang pada norma yang berlaku untuk berpihak kepada yang benar dan yang etika lebih sulit dihadapi karena ada berbagai hal yang terlibat seperti cinta, keadilan, kebenaran dan sebagainya. Paradigma yang terjadi adalahRasa keadilan vs rasa pendek vs jangka dalam mengambil keputusan didasarkan pada 3 prinsip cara berpikir, yaituBerbasis hasil akhir End-based ThinkingBerbasis peraturan Rule-based ThinkingBerbasis rasa peduli Care-based ThingkingPanduan Mengambil KeputusanIlustrasi perbedaan dilema etika dan bujukan moral. Sumber di atas mencatat 9 langkah yang bisa dijadikan panduan dalam mengambil keputusan, yaituMengenali nilai-nilai yang saling bertentangan lalu menyaring mana yang berhubungan dengan etika sopan santun dan norma pihak yang fakta-fakta yang benar atau salah menggunakan uji regulasi, uji legal, uji standar professional dan 4 paradigma benar vs prinsip resolusi menggunakan 3 prinsip cara berpikir di opsi keputusan dan keputusan memang tidak mudah. Tapi tidak mengambil keputusan akan membawa ke situasi yang lebih buruk. Seorang pemimpin, tidak hanya di bidang pendidikan, akan diuji ketika harus mengambil ulasan tentang perbedaan dilema etika dan bujukan moral dalam mengambil keputusan yang patut untuk direnungkan, dipahami dan dipraktikkan. LUS
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Mataram - Membahas etika dan moral tidak akan pernah usai sepanjang manusia itu ada, karena bagaimana pun juga masalah etika dan moral melekat pada diri manusia itu sendiri. Padanannya, etika dan moral tidak akan dibahas ketika sudah tidak ada yang membahasnya dan tidak ada wadah manusia yang ditempati oleh etika dan moral tersebut. Terdapat perbedaan yang mendasar antara etika dan moral, meski pada banyak sempat dan ruang, kedua diksi ini disepadankan maknanya. Secara umum etika dipahami sebagai aturan perilaku yang diakui bersama dan berkaitan dengan kelas tertentu dari tindakan yang dilakukan manusia atau kelompok, maupun budaya tertentu yang ada di masyarakat. Sementara itu, moral lebih fokus dipahami sebagai suatu prinsip atau kebiasaan yang berhubungan dengan perilaku benar atau salah. Dalam konteks yang lebih luas, membahas masalah etika tidak sekedar membahas putih atau hitamnya sesuatu, akan tetapi membahas perbedaan antara tindakan yang sesungguhnya dan yang tidak. Area inilah yang kemudian berpotensi menimbulkan permasalahan moral atau godaan moral ataupun dilema moral. Etika sebagai filsafat moral merupakan refleksi kritis untuk memungkinkan seseorang dalam menentukan pilihan, menentukan sikap dan bertindak benar sebagai manusia dalam situasi konkrit dan kritis. Sehingga objek etika yang kita kenal dapat berupa pernyataan moral. Oleh karena itu, etika dapat juga dikatakan sebagai filsafat tentang bidang moral. Sepanjang ini, etika tidak mempersoalkan keadaan manusia melainkan bagaimana manusia itu harus kasus yang dapat dijadikan sebagai gambaran adalah sebagai seorang kepala keluarga, Dollah lebih memilih untuk membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya membeli onderdil mobil, games atau bahkan untuk berjudi dan bersenang-senang dengan temannya dan jika ada sisanya baru diserahkan Dollah kepada istrinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam perspektif moral, tentu perbuatan Dollah tersebut sangat tidak pantas, tidak etis atau immoral. Sebagai kepala keluarga, Dollah memiliki kewajiban mendasar untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhan pribadi. Sikap immoral Dollah menyadarkan kita bahwa sejatinya, etika yang memiliki nilai moral memang harus dilaksanakan dalam situasi konkrit sebagaimana yang dihadapi seseorang jika ingin dikatakan sebagai sosok bermotal yang melakukan tindakan etis. Untuk bertindak etis pada situasi konkrit yang dihadapi, tidak ditentukan oleh norma dan nilai moral saja, tetapi juga diperlukan suatu critical evaluation terhadap semua situasi yang terkait. Oleh karena itu, etika sebagai filsafat moral yang bersifat situasional memerlukan informasi tambahan tentang sesuatu yang telah terjadi situasi empiris sehingga memungkinkan seseorang dapat menentukan sikap dan perilaku tepat untuk dilakukan atau mengambil keputusan yang tepat terhadap tindakan yang telah dilakukan. Dengan kata lain, etika sebagai filsafat moral menuntut individu agar bersikap dan berperilaku secara kritis dan rasional. Individu tersebut harus tahu dan sadar bahwa sikap dan perilakunya, akan berdampak baik bagi dirinya sendiri maupun baik bagi orang lain. 1 2 3 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
O bote salva-vidas superlotadoA escolha de SofiaA tortura do terroristaA Parcialidade da AmizadeO dilema do tremOs limites da promessaUm dilema moral ocorre quando um agente deve realizar uma ação, do contrário haverá estará fazendo algo errado, mas essa ação implica deixar de realizar outra que também deve deveria fazer para agir corretamente. Ou seja, dilemas morais são situações em que não importa o que você faça, estará fazendo algo ruim. O que lhe resta é escolher qual é o curso de ação menos ruim ou mais correto. O agente parece, assim, condenado ao fracasso moral; não importa o que ela faça, ela fará algo errado ou deixará de fazer algo que deva fazer. O bote salva-vidas superlotado Em 1842, um navio atingiu um iceberg e mais de 30 sobreviventes foram apinhados em um bote salva-vidas que comportava apenas 7 pessoas. Ao se aproximar uma tempestade, ficou óbvio que algumas pessoas deveriam ser deixadas para trás para que o bote não afundasse. O capitão argumentou que a coisa certa a fazer nessa situação era forçar alguns indivíduos pular no mar e se afogar. Tal ação, raciocinou ele, não era injusta para aqueles jogados ao mar, pois eles teriam se afogado de qualquer maneira. Se ele não fizesse nada, no entanto, ele seria responsável pelas mortes daqueles que ele poderia ter salvo. Algumas pessoas se opuseram à decisão do capitão. Eles alegaram que, se nada fosse feito e todos morressem como resultado, ninguém seria responsável por essas mortes. Por outro lado, se o capitão tentasse salvar alguns, só poderia fazê-lo matando outros e suas mortes seriam de sua responsabilidade; isso seria pior do que não fazer nada e deixar todos morrerem. O capitão rejeitou esse raciocínio. Como a única possibilidade de resgate exigia grandes esforços de remo, o capitão decidiu que os mais fracos teriam que ser sacrificados. Nessa situação, seria absurdo, pensou ele, decidir por sorteio quem deveria ser jogado ao mar. Como se viu, depois de dias de remo duro, os sobreviventes foram resgatados e o capitão foi julgado por sua ação. Se você estivesse no júri, como você teria decidido? A escolha de Sofia No romance A escolha de Sofia, de William Styron, uma polonesa, Sophie Zawistowska, é presa pelos nazistas e enviada para o campo de extermínio de Auschwitz. Ao chegar no campo de concentração, por não ser judia, é premiada com uma escolha Sofia pode escolher um de seus filhos para ser poupado da câmara de gás. O outro deve morrer. Em uma agonia de indecisão, quando vê as duas crianças sendo levadas para a morte, Sofia pede para que deixem seu filho mais velho viver e levem sua filha mais jovem. Sua decisão é motivada pelo fato de pensar que seu filho terá mais chance de sobreviver, por ser mais velho e forte. No fim, ela acaba se afastando do filho e nunca mais o vê. Ela fez a coisa certa? Anos depois, assombrada pela culpa de ter escolhido entre seus filhos, Sofia comete suicídio. Ela deveria ter se sentido culpada? A tortura do terrorista Um terrorista que ameaçou explodir várias bombas em regiões populosas foi preso. Infelizmente, ele já plantou as bombas e elas estão programadas para explodir em pouco tempo. É possível que centenas de pessoas morram. As autoridades não conseguem fazê-lo divulgar a localização das bombas por métodos convencionais. Ele se recusa a dizer qualquer coisa e pede a um advogado que proteja seu direito de manter silêncio e não dizer nada que o incrimine. Desesperado, um dos chefes de polícia sugere tortura. Isso seria ilegal, é claro, mas o funcionário acha que, no entanto, é a coisa certa a se fazer nessa situação desesperadora. Você concorda? Se o fizer, seria também moralmente justificável torturar a esposa inocente do terrorista se essa for a única maneira de fazê-lo falar? Por quê? Quais valores importantes estão em jogo nessa decisão? A Parcialidade da Amizade Jim tem a responsabilidade de preencher uma vaga de trabalho em sua empresa. Seu amigo Paul se candidatou e está qualificado, mas outra pessoa parece ainda mais qualificada. Jim quer dar o trabalho a Paul, mas ele se sente culpado, acreditando que deveria ser imparcial. Essa é a essência da moralidade, ele inicialmente diz a si mesmo. Essa crença é, no entanto, rejeitada, pois Jim resolve que a amizade tem uma importância moral que permite, e talvez até requeira, parcialidade em algumas circunstâncias. Então ele dá o trabalho para Paul. Ele fez a coisa certa? Que valores morais, deveres, princípios importantes estão em jogo nesse dilema? O dilema do trem Você vê um trem desgovernado movendo-se em direção a cinco pessoas amarradas nos trilhos ou incapacitadas de qualquer outra maneira. Caso nada seja feito, elas serão mortas pelo trem. Mas você está de pé ao lado de uma alavanca que controla um interruptor. Se você puxar a alavanca, o trem será redirecionado para uma pista lateral e as cinco pessoas na pista principal serão salvas. No entanto, na pista lateral também há uma pessoa presa que acabará morrendo. Você tem duas opções Não faça nada e permita que o trem mate as cinco pessoas na pista principal. Puxe a alavanca, desviando o trem para a pista lateral, onde ele matará uma pessoa. Qual é a decisão mais correta a tomar? Os limites da promessa Um amigo quer lhe contar um segredo e pede que você prometa não contar a ninguém. Você dá sua palavra. Ele conta que atropelou um pedestre e, por isso, vai se refugiar na casa de uma prima. Quando a polícia o procura querendo saber do amigo, o que você faz? Conta à polícia? Não conta à polícia? O antropólogo holandês Fonz Trompenaars realizou pesquisas em diversos países com dilemas como esse. O mais interessante é que as respostas variaram de acordo com o povo. A maioria dos russos acusaria o amigo na lata. Outros mentiriam para protegê-lo, dando dicas ambíguas à polícia, como os americanos. Já os brasileiros inventariam histórias malucas para dizer que a culpa não era do amigo, mas do pedestre, que era um suicida.
pertanyaan sehubungan dengan topik dilema etika dan bujukan moral